Alutsista Udara

CN-235: Sejarah, Varian, dan Peran Pesawat

Oleh Dwi Septhia Alhinduan//3 menit baca

Diperbarui

Fakta & konteks singkat 10 informasi
Nama resmiCASA/IPTN CN‑235
KelasPesawat transportasi taktis / angkut maritim
Negara asalSpanyol & Indonesia (kolaborasi)
ProdusenCASA (sekarang Airbus Defence & Space) dan PT Dirgantara Indonesia (IPTN)
Pertama terbang11 November 1983 (CASA prototype) / 30 Desember 1983 (IPTN prototype) [1][2]
Perkenalan resmi1 Maret 1988 [3]
Jumlah dibangun286 unit (IPTN 69) [3]
MesinGeneral Electric CT7‑9C, 1.750 SHP masing‑masing [1]
Kemampuan STOLYa, dirancang untuk operasi landasan pendek
Pintu rampYa, memudahkan muatan kendaraan dan kontainer

Baca angka bersama varian, tanggal, dan referensi pada artikel.

CN-235 adalah pesawat transportasi taktis bermesin turboprop kelas menengah yang dikembangkan secara bersama antara CASA (Spanyol) dan IPTN (Indonesia). Platform ini dirancang untuk operasi dengan kemampuan Short Take‑Off and Landing (STOL) serta dilengkapi dengan pintu ramp yang memudahkan muatan masuk‑keluar. Hingga kini lebih dari 300 unit telah diproduksi dalam berbagai varian.

Identitas dan cakupan profil

Nama resmi: CASA/IPTN CN‑235. Keluarga: CN‑235 family. Kelas: pesawat transportasi taktis/angkutan maritim. Negara asal: kolaborasi Spanyol‑Indonesia. Produsen utama: CASA (sekarang Airbus Defence & Space) dan PT Dirgantara Indonesia (sebelumnya IPTN). Profil ini mencakup seluruh keluarga varian utama yang diproduksi hingga kini.

Varian dan konfigurasi

Berbagai varian utama yang terdokumentasi meliputi:

  • CN‑235‑10: varian awal produksi serial.
  • CN‑235‑100/110: versi yang ditingkatkan dengan kapasitas payload lebih besar dan perbaikan sistem.
  • CN‑235‑220: varian dengan peningkatan performa yang diproduksi oleh PTDI.
  • Versi Airbus Defence & Space 200/300: varian yang dipasarkan secara internasional dengan konfigurasi khusus.

Setiap varian menggunakan dua mesin turboprop General Electric CT7‑9C dengan daya dorong 1.750 SHP per mesin.

Spesifikasi teknis (bersumber)

Spesifikasi umum CN‑235 (varian standar)
ParameterNilaiSatuanKeteranganSumber
Dimensi (panjang)22,57m‑[3]
Dimensi (rentang sayap)23,00m‑[3]
Berat kosong9.250kg‑[3]
Berat lepas landas maksimum16.300kg‑[3]
Payload maksimum6.000kg‑[3]
Kecepatan jelajah440km/h≈ 237 kt[3]
Jangkauan4.000kmDengan 5 t payload[3]
MesinGE CT7‑9C‑Dua buah, masing‑masing 1.750 SHP[1]
Jumlah dibangun286unitIPTN 69 unit[3]
Produksi1983‑sekarang‑Serial dimulai 1986[1][3]
Perkenalan1 Maret 1988‑‑[3]

Peran dan karakteristik desain

Desain CN‑235 menekankan fleksibilitas operasi di medan terbatas. Sayap berukuran sedang dan mesin turboprop memungkinkan lepas landas dan pendaratan pada landasan pendek (STOL). Pintu ramp belakang memudahkan pemuatan kendaraan ringan, kontainer, atau personel hingga 51 orang. Karena biaya operasional yang relatif rendah, CN‑235 banyak dipilih untuk misi transport logistik, evakuasi medis, dan patroli maritim dengan peralatan sensor tambahan.

Sejarah pengembangan

Pembentukan joint venture Airtech International antara IPTN dan CASA terjadi pada 17 Oktober 1979, menandai langkah awal pengembangan CN‑235. Prototipe pertama buatan CASA, bernama “Elena”, melakukan penerbangan perdana pada 11 November 1983, sedangkan prototipe buatan IPTN, “Tetuko”, terbang pertama kali pada akhir Desember 1983 ([1][2]). Produksi serial dimulai pada Desember 1986 untuk varian 10 dan 100 ([1]). Sejak peluncuran, lebih dari 300 unit telah diproduksi, dengan varian‑varian yang terus disempurnakan oleh kedua belah pihak ([1]).

Konteks Indonesia

Di Indonesia, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memproduksi komponen utama seperti outer wing, horizontal stabilizer, vertical fin, dan pintu ramp untuk pasokan Airbus Defence & Space. Angkatan Udara Indonesia mengoperasikan varian CN‑235M untuk transportasi taktis dan patroli maritim. Pada tahun 2022, PTDI menandatangani kerja sama dengan Jet Investment Group SARL untuk memperluas lini perakitan final di Hanggar, memperkuat posisi CN‑235 di pasar internasional ([4]).

Pengadaan dan status operasional

Pesawat CN‑235 masih dalam produksi dan aktif di lebih dari 30 negara. Di Indonesia, sejumlah unit telah diterima sejak akhir 1990‑an dan terus dipertahankan dalam layanan aktif. Tidak ada laporan resmi mengenai penghentian produksi, sehingga statusnya dapat dianggap “aktif” pada saat data terakhir (2022) ([4]).

Keterbatasan data

Spesifikasi detail per varian (misalnya perbedaan struktural antara seri 10 dan 110) tidak sepenuhnya tersedia dalam sumber terbuka yang diacu. Nilai‑nilai yang tercantum di atas mewakili varian standar yang paling umum dilaporkan. Informasi tentang jumlah unit yang beroperasi di Indonesia secara spesifik tidak diungkapkan dalam sumber publik yang tersedia.

TELUSURI SUMBERNYA

Sumber & referensi

  1. PT Dirgantara Indonesia (Persero). "CN235 Family". https://dirgantara-indonesia.com/aircraftid/detail/1_cn235family.html
  2. Wikipedia Bahasa Indonesia. "CN-235". https://id.wikipedia.org/wiki/CN-235
  3. Wikipedia Bahasa Inggris. "CASA/IPTN CN-235". https://en.wikipedia.org/wiki/CASA/IPTN_CN-235
  4. Kompas.com. "Sejarah Pesawat CN235 Buatan Karya Anak Bangsa yang Kini Mendunia". https://nasional.kompas.com/read/2022/02/03/15473381/sejarah-pesawat-cn235-buatan-anak-bangsa-yang-kini-mendunia

Pertanyaan yang sering diajukan

Kapan CN‑235 melakukan penerbangan perdana?

Prototipe buatan CASA bernama “Elena” terbang pertama kali pada 11 November 1983, sementara prototipe buatan IPTN bernama “Tetuko” melakukan penerbangan perdana pada 30 Desember 1983 ([1][2]).

Berapa banyak varian utama CN‑235 yang diproduksi?

Varian utama yang terdokumentasi meliputi Seri 10, Seri 100/110, Seri 220, serta versi Airbus Defence & Space 200/300. Setiap varian menyesuaikan kapasitas payload dan peralatan khusus ([1][3]).

Apakah CN‑235 masih diproduksi?

Ya. Produksi CN‑235 berlanjut sejak 1983 hingga kini, dengan lebih dari 300 unit yang telah diproduksi ([1][3]).

Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan koreksi beserta sumbernya →