Alutsista Darat

Badak – Kendaraan Bantuan Tembak 6×6 Buatan PT Pindad

Oleh Dwi Septhia Alhinduan//3 menit baca

Diperbarui

Fakta & konteks singkat 16 informasi
JenisKendaraan bantuan tembak (fire support vehicle)
PeranDukungan tembakan langsung untuk infanteri dan kendaraan ringan
Negara asalIndonesia
ProdusenPT Pindad (Persero)
Tahun produksi pertama2014
Jumlah unit diproduksi17 unit
Berat kosong11 000 kg
Berat tempur14 500 kg
Dimensi (P × L × T)6,0 m × 2,5 m × 2,9 m
Kecepatan maksimum80 km/h
Jarak jelajah600 km
MesinDiesel inline‑6, 340 HP, turbo‑intercooler
Awak3 orang
Senjata utamaMeriam Cockerill 90 mm MkIII M‑A1
Senjata pendukungSenapan mesin 7,62 mm
Tingkat perlindunganSTANAG 4569 level 3 (potensi naik ke level 4)

Baca angka bersama varian, tanggal, dan referensi pada artikel.

Badak merupakan kendaraan bantuan tembak berukuran 6×6 yang dikembangkan oleh PT Pindad (Persero) untuk memenuhi kebutuhan dukungan tembakan (fire support) TNI Angkatan Darat. Platform ini menempati posisi antara kendaraan lapis baja ringan seperti Anoa dan tank medium, dengan mengusung meriam 90 mm pada turret dua‑orang dan mobilitas tinggi pada sasis roda.

Identitas dan cakupan profil

Nama resmi: Badak (Fire Support Vehicle – FSV).
Keluarga: Turunan dari keluarga kendaraan lapis baja Anoa 6×6.
Kelas: Kendaraan bantuan tembak (fire support vehicle) / panser roda enam.
Negara asal: Indonesia.
Produsen: PT Pindad (Persero).
Mitra teknologi persenjataan: Cockerill Maintenance & Ingenierie (CMI) – Belgia, penyedia meriam 90 mm dan turret.
Peran utama: Memberikan dukungan tembakan langsung terhadap infanteri, kendaraan ringan, dan posisi pertahanan musuh, serta dapat beroperasi di medan yang sulit dijangkau tank berjalur.

Varian dan konfigurasi

Sampai saat ini, Badak hanya tersedia dalam satu varian utama, yaitu Badak FSV 6×6 dengan turret dua‑orang berkaliber 90 mm. Tidak ada varian lain yang secara resmi diumumkan oleh PT Pindad maupun TNI.

Spesifikasi bersumber

Spesifikasi Badak FSV 6×6 (berdasarkan sumber resmi)
ParameterNilaiSatuanKondisi / VarianSumber
Berat kosong11 000kgFSV Badak[3]
Berat tempur14 500kgFSV Badak[3]
Panjang6,0mFSV Badak[3]
Lebar2,5mFSV Badak[3]
Tinggi2,9mFSV Badak[3]
Ground clearance400mmFSV Badak[3]
Kecepatan maksimum80km/hFSV Badak[3]
Daya jelajah600kmFSV Badak[3]
Mesin340HPDiesel inline‑6 dengan Turbo‑Intercooler[3]
Awak3orangKomandan, operator turret, pengemudi[4]
Senjata utamaMeriam Cockerill 90 mm MkIII M‑A1Turret CSE‑90LP[4]
Senjata pelengkapSenapan mesin 7,62 mm[4]
PerisaiSTANAG 4569 level 3 (potensi naik ke level 4)[4]
SuspensiDouble wishbone[4]
Produksi2014‑sekarang[4]
Jumlah unit diproduksi17unit[4]

Peran dan cara membaca karakteristiknya

Badak dirancang untuk menempati celah antara kendaraan pengangkut personel (seperti Anoa) dan tank berjalur. Meriam 90 mm memberikan daya tembak yang cukup untuk menghancurkan kendaraan lapis baja ringan, bunker, dan konsentrasi infanteri, sementara bobot sekitar 14,5 ton membuatnya cukup ringan untuk melintasi jalan raya dan medan off‑road yang tidak dapat dilalui tank berat. Sistem suspensi double wishbone dan mesin 340 HP memungkinkan kecepatan hingga 80 km/h dan jangkauan operasional 600 km, sehingga Badak dapat mengikuti pergerakan pasukan mekanis maupun infanteri dalam operasi cepat.

Sejarah pengembangan dan penggunaan

  • 2013 – Konsep Badak mulai dirancang sebagai kelanjutan dari platform Anoa, dengan fokus menambahkan turret berkaliber besar.
  • 2014 – PT Pindad menandatangani Nota Kesepahaman dengan Cockerill (CMI Defence) untuk transfer teknologi turret 90 mm.[1] Prototipe pertama diuji pada tahun yang sama.
  • 5 November 2014 – Badak resmi diluncurkan pada pameran Indo Defence & Aerospace di Jakarta, nama resmi diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.[1]
  • 2015‑2016 – Produksi serial dimulai; total 17 unit dilaporkan selesai pada 2022.[4]
  • 2022‑sekarang – Badak masuk dalam satuan kavaleri TNI Angkatan Darat sebagai kendaraan dukungan tembakan; belum tercatat terlibat dalam operasi tempur berskala besar.[4]

Konteks Indonesia dan operator

Operator utama Badak adalah TNI Angkatan Darat. Kendaraan ini ditempatkan pada satuan kavaleri untuk memperkuat kemampuan dukungan tembakan pada formasi mekanis dan infanteri. Hingga kini tidak ada laporan penggunaan Badak oleh negara lain atau penjualan ekspor.

Pengadaan dan perubahan status

Pengadaan Badak dilakukan melalui kontrak langsung antara PT Pindad dan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Jumlah total unit yang diproduksi tercatat sebanyak 17 unit, yang mencakup kendaraan lengkap beserta turretnya. Tidak ada informasi publik tentang tambahan pesanan setelah 2022.

Keterbatasan data

Beberapa aspek teknis masih belum tersedia secara lengkap dalam sumber terbuka, antara lain detail lengkap sistem kontrol tembakan, kapasitas amunisi internal, serta tingkat kesiapan operasional masing‑masing unit. Informasi mengenai varian tambahan (misalnya varian anti‑tank atau command‑post) belum dipublikasikan.

TELUSURI SUMBERNYA

Sumber & referensi

  1. PT Pindad (Persero). “PINDAD LUNCURKAN PANSER BADAK”. https://pindad.com/press-release-badak (diakses 8 November 2026).
  2. TNI AD. “Setelah Anoa, Kembangkan Panser Badak”. https://tniad.mil.id/setelah-anoa-kembangkan-panser-badak/ (diakses 8 November 2026).
  3. Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). “FSV BADAK 6×6”. https://www.kkip.go.id/project/project-9/ (diakses 8 November 2026).
  4. Wikipedia. “Pindad Badak”. https://id.wikipedia.org/wiki/Pindad_Badak (diakses 8 November 2026).

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa banyak unit Badak yang telah diproduksi?

Menurut data resmi, sebanyak 17 unit Badak telah diproduksi sejak program dimulai pada 2014.

Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan koreksi beserta sumbernya →