Kelas Makassar merupakan keluarga kapal Landing Platform Dock (LPD) yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan amfibi dan logistik Angkatan Laut Republik Indonesia (TNI‑AL). Desain dasar dikembangkan oleh Daesun Shipbuilding & Engineering (Korea Selatan) dan diproduksi bersama PT PAL (Surabaya, Indonesia) serta SIMA (Callao, Peru). Empat unit berhasil dibangun, dua di antaranya di Busan, Korea Selatan, dan dua sisanya di galangan PT PAL di Indonesia.
Identitas dan varian yang dibahas
Profil ini membahas Kelas Makassar secara keseluruhan, bukan satu kapal individu. Kelas ini termasuk empat unit yang dioperasikan oleh TNI‑AL: KRI Makassar (590), KRI Surabaya (591), KRI Banjarmasin (592), dan KRI Banda Aceh (593). Semua unit termasuk dalam satu varian desain yang sama, dengan perbedaan dimensi kecil tergantung pada versi konstruksi (Indonesia vs. Peru vs. Myanmar) sebagaimana tercatat dalam sumber Wikipedia.[1]
Varian dan konfigurasi
Secara teknis, Kelas Makassar tidak memiliki sub‑varian yang dipublikasikan secara resmi. Semua empat kapal dibangun dengan spesifikasi dasar yang seragam, meliputi:
- Displacement standar sekitar 12.400 ton; displacement penuh hingga 15.994 ton.
- Panjang keseluruhan 122 m (versi Indonesia) atau 125 m (versi Myanmar). Lebar 22 m, draught 5,9 m.
- Propulsi CODAD dengan dua mesin diesel MAN B&W 8L28/32A, total daya 2.666 BHP/1.960 kW, menghasilkan kecepatan maksimum sekitar 16 knot.
- Persenjataan utama berupa meriam otomatis Bofors 40 mm, serta sistem pertahanan udara Mistral Simbad (rudal permukaan‑udara).
- Fasilitas amfibi meliputi dermaga internal, helipad, serta ruang muatan yang dapat menampung kendaraan lapis baja, peralatan logistik, dan pasukan marinir.
Konfigurasi interior dapat disesuaikan untuk peran khusus, seperti rumah sakit bergerak atau kapal bantuan kemanusiaan, namun tidak ada varian produksi terpisah yang didokumentasikan.
Spesifikasi bersumber
| Parameter | Nilai | Satuan | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Displacement standar | 12.400 | ton | Menurut Wikipedia[1] |
| Displacement penuh | 15.994 | ton | Menurut Wikipedia[1] |
| Panjang keseluruhan | 122‑125 | meter | 122 m (Indonesia), 125 m (Myanmar) – Wikipedia[1] |
| Lebar | 22 | meter | Wikipedia[1] |
| Draught | 5,9 | meter | Wikipedia[1] |
| Propulsi | 2 × MAN B&W 8L28/32A | diesel | CODAD, 2 666 BHP total – Wikipedia[1] |
| Kecepatan maksimum | 16 | knot | Wikipedia[1] |
| Persenjataan utama | Bofors 40 mm | — | Naval‑Technology[2] |
| Sistem pertahanan udara | Mistral Simbad | — | Naval‑Technology[2] |
Peran dan cara membaca karakteristiknya
Desain LPD menekankan kemampuan mengangkut dan menurunkan pasukan serta peralatan ke zona operasi pantai tanpa memerlukan fasilitas pelabuhan. Displacement yang relatif besar memungkinkan muatan kendaraan lapis baja (misalnya APC, LAV) serta sejumlah helikopter medium. Kecepatan 16 knot cukup untuk mengikuti konvoi laut, sementara sistem propulsi CODAD memberikan efisiensi bahan bakar pada kecepatan jelajah menengah. Persenjataan ringan (Bofors 40 mm, Mistral) memberikan perlindungan dasar terhadap ancaman udara dan permukaan, cocok untuk operasi non‑konflik atau operasi bantuan kemanusiaan.
Sejarah pengembangan dan penggunaan
Pengadaan pertama dimulai pada Desember 2004, ketika Indonesia menandatangani kontrak $150 juta dengan Daewoo International untuk empat LPD. Dua unit pertama dibangun di Busan oleh Daesun Shipbuilding, sementara dua berikutnya diproduksi di PT PAL dengan bantuan teknis dari Daesun.[2] Penyerahan pertama, KRI Makassar, terjadi pada 2007, diikuti oleh KRI Surabaya (2007), KRI Banjarmasin (2009), dan KRI Banda Aceh (2010). Selama bertahun‑tahun, kapal‑kapal ini telah berpartisipasi dalam latihan amfibi bersama negara sahabat, operasi bantuan bencana, serta misi penjagaan kedaulatan wilayah laut Indonesia.
Konteks Indonesia dan operator
Semua empat unit Kelas Makassar berada di bawah komando Angkatan Laut Republik Indonesia (TNI‑AL). Mereka melengkapi kemampuan amfibi TNI‑AL yang sebelumnya hanya mengandalkan kapal-kapal serbaguna. Sebagai contoh, KRI Banjarmasin secara rutin digunakan sebagai platform logistik dalam operasi bantuan pasca‑bencana di wilayah Papua dan Nusa Tenggara.[3] Hingga akhir 2026, keempat kapal masih tercatat aktif dalam daftar inventaris TNI‑AL.
Pengadaan dan perubahan status
Pengadaan Kelas Makassar menunjukkan model kerja sama internasional: desain Korea Selatan, produksi bersama, serta transfer teknologi ke industri galangan dalam negeri. Tidak ada laporan pembatalan atau penarikan unit setelah penyerahan. Seluruh empat unit masih beroperasi, meskipun satu atau dua di antaranya pernah menjalani modernisasi minor (pembaruan sistem komunikasi dan peralatan navigasi) yang tidak dipublikasikan secara detail.
Keterbatasan data
Beberapa parameter teknis, seperti jangkauan operasional, endurance bahan bakar, atau kapasitas maksimal personel, tidak tersedia dalam sumber terbuka yang diperiksa. Angka biaya pembangunan (USD 37,5‑45 juta) tercantum di Wikipedia namun tanpa referensi jelas, sehingga tidak dimasukkan ke dalam tabel spesifikasi.[1] Informasi tentang varian khusus (misalnya versi rumah sakit) hanya disebut secara umum dalam publikasi PT PAL, tanpa data kuantitatif.
Referensi
[1] Wikipedia, “Landing Platform Dock kelas Makassar”, https://id.wikipedia.org/wiki/Landing_Platform_Dock_kelas_Makassar, diakses 8 Nov 2026.
[2] Naval‑Technology, “Makassar Class Landing Platform Docks”, https://www.naval-technology.com/projects/makassar-class-landing-platform-docks/, diakses 8 Nov 2026.
[3] Tirto.id, “Mengenal LPD TNI‑AL yang Bisa Berperan Mirip Kapal Induk”, 5 Oct 2026, https://tirto.id/mengenal-lpd-tni-al-yang-bisa-berperan-mirip-kapal-induk-hDwJ, diakses 8 Nov 2026.
